Renungan Sebuah Sesi Perkuliahan
Sewaktu penulis mengikuti kuliah perdana Bioetik dan Medikolegal yang diampu oleh Bapak Tridjoko Hadianto, MD, DTM&H,M.Kes. (Tim Humaniora dan Bioetika FK UGM Yogyakarta), penulis menjadi sadar bahwa ternyata pada umumnya terjadi salah pandang dan tafsir mengenai masalah profesionalisme. Asal kata profesional sebenarnya adalah prophet (nabi) bukan profit (mencari keuntungan), sehingga profesional dapat diartikan sebagai “bekerja dengan tujuan mulia untuk membuat orang lain menjadi sejahtera”.
Banyak (bahkan hampir seluruh) kalangan profesional memandang bahwa professional berarti profit (mencari keuntungan). Memang kita tidak bisa naif bahwa kita tidak membutuhkan uang dan memang bekerja untuk mendapatkannya, tetapi dengan kesalahan pandang bahwa bekerja dilakukan untuk profit maka kita akan sangat mudah (tergelincir) memberikan pembenaran-pembenaran pada hal-hal yang salah atau tidak sesuai dengan hati nurani kita. Filosofi makna professional ternyata adalah memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan selalu berpikir untuk berguna bagi (mensejahterakan) orang lain. Kesalahan pandang inilah yang sampai saat ini menjadi akar masalah dalam dunia profesionalisme. Mulai dari berbagai macam jenis korupsi sampai konflik-konflik intern maupun ekstern dapat terjadi jika kita memilih bekerja untuk profit semata tanpa memperhatikan nilai-nilai lain yang perlu didahulukan.
Dengan perkembangan zaman yang amat pesat maupun faktor-faktor intern dan ekstern pembentuk manusia yang begitu beragam dan kompleks maka kita tidak bisa lagi berpikir terlalu kolot dalam menghadapi sesuatu. Kita tidak bisa lagi mendasarkan semua perbuatan kita sebatas pada hati nurani, tetapi juga haruslah ditambah dengan bersikap secara bijaksana dan dewasa.
Bijaksana dan dewasa
Secara gramatikal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bijaksana berarti selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuan); arif; tajam pikirannya; pandai dan ingat-ingat (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan dsb. Selanjutnya dewasa berarti sampai umur; akil baliq. Akil baliq itu sendiri memiliki arti tahu membedakan baik dan buruk (berumur 15 tahun ke atas); cukup umur; cukup akalnya. Khalifah ketiga, Saidina Uthman al-Affan pernah menyenaraikan beberapa ciri orang yang bijaksana. Khalifah itu menyebutkan bahwa ada empat ciri-ciri orang yang bijaksana.
Pertama, hatinya sentiasa berniat suci. Orang yang bijaksana sentiasa ikhlas dalam setiap amalan. Selain daripada niatnya yang ikhlas, orang yang bijaksana juga sentiasa suci hatinya daripada bisikan-bisikan yang keji terhadap orang lain sehingga hatinya suci dari dendam, dengki, riya, takbur dan pelbagai penyakit hati yang mendatangkan kemusnahan dan kehinaan diri.
Kedua, lidahnya senantiasa basah dengan zikrullah. Yaitu dengan menyempurnakan setiap pekerjaan dengan kalimat Alhamdulillah, menyampaikan sesuatu tentang kebenaran dan kemakrufan, menyampaikan ilmu dan memberikan nasihat yang berguna. Tetapi kita tidak bijaksana jika lidah disalahgunakan untuk perkara-perkara yang keji dan mungkar, lidah kita jadikan sebagai alat untuk menabur fitnah, dijadikan alat untuk mengadu domba, mencetuskan perpecahan, menyebarkan pendustaan dan menghias kata-kata dengan segala pembohongan.
Ketiga, matanya sentiasa basah dengan air mata penyesalan terhadap dosa-dosanya yang telah dilakukan. Orang yang bijaksana akan segera bertaubat jika melakukan dosa dan kesalahan. Dia menginsafi betapa besarnya kemurkaan dan azab Allah S.W.T. terhadap golongan yang ingkar dan menentang perintah-Nya. Dia juga insaf betapa Allah S.W.T. Maha Pengasih dan sentiasa menerima hamba-hamba-Nya yang ingin bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Orang yang bijaksana tidak menunda waktu untuk bertaubat dan tidak menunggu sampai tua baru memulai untuk beramal ibadat, karena dia tahu bahwa ajal tidak memilih usia. Betapa singkatnya kehidupan ini yang sewajarnya kita manfaatkan dengan bijaksana.
Keempat, sentiasa sabar dan tabah dalam menghadapi segala dugaan dan ujian hidup. Sabar tanda bijaksana, gelojoh (tamak) dan mengikut rasa adalah tanda orang yang tidak bijaksana. Sabar berarti mampu menahan amarah dan berupaya mengawal diri. Di hadapan dugaan fizikal orang bijaksana mampu bersabar, di depan ujian kemaksiatan dia mampu bertahan daripada jebakan dan bisikan kemungkaran. Sabar adalah buah dari keimanan dan bunga dari kebijaksanaan. Karena itu, banyak golongan yang tiba-tiba menjadi hina, hanya karena tidak sabar, ada kalangan tiba-tiba hilang kekuasaannya hanya karena hilang kesabaran, ada orang yang tiba-tiba lenyap harta kemewahannya dalam sekelip mata, akibat mengikut kegairahan emosi sehingga gagal untuk menghadapi godaan dengan iman dan kesabaran. Sebuah keluarga hilang kebahagiaan jika tidak dinaungi kesabaran, sebuah organisasi tidak akan mencapai visi dan misinya jika dibarisi dengan tangan-tangan yang tidak sabar, sebuah perjuangan juga akan menemui kegagalan jika kita tidak tabah dan tiada semangat untuk berkorban.
Demikianlah Khalifah Saidina Uthman al-Affan menguraikan keempat ciri orang yang bijaksana. Selanjutnya masih berhubungan dengan ide penulis, Fr Serafikus Suarno, Pr. mengutarakan bahwa seseorang disebut bijaksana karena mau mempertimbangkan secara matang keputusan yang akan ia buat, selain itu disebut bijaksana karena ia juga mau mempertimbangkan keputusan yang akan ia ambil dengan memperhatikan orang lain.
Memilih yang terbaik
Kesimpulannya dengan kebijaksanaan kita dapat menimbang, memilih yang terbaik dari semua pilihan hidup yang kita hadapi dengan memperhatikan orang lain, dan bersikap untuk itu. Dengan kedewasaan kita dapat memilih mana yang baik dan yang salah berdasarkan hati nurani kita. Pada kenyataannya masih banyak kalangan profesional yang belum atau bahkan sengaja berbuat tidak bijaksana dan dewasa, padahal profesionalisme seharusnya adalah sesuatu yang mulia.
Sebenarnya kesalahan ini tidak bisa kita timpakan sepenuhnya pada orang tersebut, lingkungan yang membentuk pribadi seseorang tersebut juga (sangat) berpengaruh. Untuk mengembangkan dan membentuk pribadi yang bijaksana dan dewasa, salah satu solusinya adalah dengan menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini dan berkelanjutan. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan pengajaran nilai-nilai moral dan etika dalam dunia pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai sekolah tinggi pengajaran nilai-nilai ini diterapkan. Jika mata pelajaran mengenai moral dan etika masih belum dapat diwujudkan maka dapatlah dimulai dengan menyisipkannya dalam pelajaran sehari-hari. Tenaga-tenaga pengajar seperti guru ataupun dosen sudah seharusnya tidak hanya to teach (mengajar) tetapi juga to educate (mendidik).
Semoga tulisan ini dapat memberikan penyegaran dan atau bahkan pencerahan pada pola pikir dan cara pandang kita (khususnya bagi kalangan prosesional) dalam menghadapi sesuatu sehingga akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk kita semua. Jika kita bisa merubahnya dari sekarang, kenapa tidak?
A DREPANE SOGE
Mahasiswa Magister Hukum Kesehatan Pascasarjana UGM, Yogyakarta
Pengirim : Albertus Drepane Soge
Alamat : Kakap Raya 4 Minomartani Ngaglik Yogyakarta
Telp : 0247 882 520 / 0817 0423 044
Sewaktu penulis mengikuti kuliah perdana Bioetik dan Medikolegal yang diampu oleh Bapak Tridjoko Hadianto, MD, DTM&H,M.Kes. (Tim Humaniora dan Bioetika FK UGM Yogyakarta), penulis menjadi sadar bahwa ternyata pada umumnya terjadi salah pandang dan tafsir mengenai masalah profesionalisme. Asal kata profesional sebenarnya adalah prophet (nabi) bukan profit (mencari keuntungan), sehingga profesional dapat diartikan sebagai “bekerja dengan tujuan mulia untuk membuat orang lain menjadi sejahtera”.
Banyak (bahkan hampir seluruh) kalangan profesional memandang bahwa professional berarti profit (mencari keuntungan). Memang kita tidak bisa naif bahwa kita tidak membutuhkan uang dan memang bekerja untuk mendapatkannya, tetapi dengan kesalahan pandang bahwa bekerja dilakukan untuk profit maka kita akan sangat mudah (tergelincir) memberikan pembenaran-pembenaran pada hal-hal yang salah atau tidak sesuai dengan hati nurani kita. Filosofi makna professional ternyata adalah memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan selalu berpikir untuk berguna bagi (mensejahterakan) orang lain. Kesalahan pandang inilah yang sampai saat ini menjadi akar masalah dalam dunia profesionalisme. Mulai dari berbagai macam jenis korupsi sampai konflik-konflik intern maupun ekstern dapat terjadi jika kita memilih bekerja untuk profit semata tanpa memperhatikan nilai-nilai lain yang perlu didahulukan.
Dengan perkembangan zaman yang amat pesat maupun faktor-faktor intern dan ekstern pembentuk manusia yang begitu beragam dan kompleks maka kita tidak bisa lagi berpikir terlalu kolot dalam menghadapi sesuatu. Kita tidak bisa lagi mendasarkan semua perbuatan kita sebatas pada hati nurani, tetapi juga haruslah ditambah dengan bersikap secara bijaksana dan dewasa.
Bijaksana dan dewasa
Secara gramatikal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bijaksana berarti selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuan); arif; tajam pikirannya; pandai dan ingat-ingat (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan dsb. Selanjutnya dewasa berarti sampai umur; akil baliq. Akil baliq itu sendiri memiliki arti tahu membedakan baik dan buruk (berumur 15 tahun ke atas); cukup umur; cukup akalnya. Khalifah ketiga, Saidina Uthman al-Affan pernah menyenaraikan beberapa ciri orang yang bijaksana. Khalifah itu menyebutkan bahwa ada empat ciri-ciri orang yang bijaksana.
Pertama, hatinya sentiasa berniat suci. Orang yang bijaksana sentiasa ikhlas dalam setiap amalan. Selain daripada niatnya yang ikhlas, orang yang bijaksana juga sentiasa suci hatinya daripada bisikan-bisikan yang keji terhadap orang lain sehingga hatinya suci dari dendam, dengki, riya, takbur dan pelbagai penyakit hati yang mendatangkan kemusnahan dan kehinaan diri.
Kedua, lidahnya senantiasa basah dengan zikrullah. Yaitu dengan menyempurnakan setiap pekerjaan dengan kalimat Alhamdulillah, menyampaikan sesuatu tentang kebenaran dan kemakrufan, menyampaikan ilmu dan memberikan nasihat yang berguna. Tetapi kita tidak bijaksana jika lidah disalahgunakan untuk perkara-perkara yang keji dan mungkar, lidah kita jadikan sebagai alat untuk menabur fitnah, dijadikan alat untuk mengadu domba, mencetuskan perpecahan, menyebarkan pendustaan dan menghias kata-kata dengan segala pembohongan.
Ketiga, matanya sentiasa basah dengan air mata penyesalan terhadap dosa-dosanya yang telah dilakukan. Orang yang bijaksana akan segera bertaubat jika melakukan dosa dan kesalahan. Dia menginsafi betapa besarnya kemurkaan dan azab Allah S.W.T. terhadap golongan yang ingkar dan menentang perintah-Nya. Dia juga insaf betapa Allah S.W.T. Maha Pengasih dan sentiasa menerima hamba-hamba-Nya yang ingin bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Orang yang bijaksana tidak menunda waktu untuk bertaubat dan tidak menunggu sampai tua baru memulai untuk beramal ibadat, karena dia tahu bahwa ajal tidak memilih usia. Betapa singkatnya kehidupan ini yang sewajarnya kita manfaatkan dengan bijaksana.
Keempat, sentiasa sabar dan tabah dalam menghadapi segala dugaan dan ujian hidup. Sabar tanda bijaksana, gelojoh (tamak) dan mengikut rasa adalah tanda orang yang tidak bijaksana. Sabar berarti mampu menahan amarah dan berupaya mengawal diri. Di hadapan dugaan fizikal orang bijaksana mampu bersabar, di depan ujian kemaksiatan dia mampu bertahan daripada jebakan dan bisikan kemungkaran. Sabar adalah buah dari keimanan dan bunga dari kebijaksanaan. Karena itu, banyak golongan yang tiba-tiba menjadi hina, hanya karena tidak sabar, ada kalangan tiba-tiba hilang kekuasaannya hanya karena hilang kesabaran, ada orang yang tiba-tiba lenyap harta kemewahannya dalam sekelip mata, akibat mengikut kegairahan emosi sehingga gagal untuk menghadapi godaan dengan iman dan kesabaran. Sebuah keluarga hilang kebahagiaan jika tidak dinaungi kesabaran, sebuah organisasi tidak akan mencapai visi dan misinya jika dibarisi dengan tangan-tangan yang tidak sabar, sebuah perjuangan juga akan menemui kegagalan jika kita tidak tabah dan tiada semangat untuk berkorban.
Demikianlah Khalifah Saidina Uthman al-Affan menguraikan keempat ciri orang yang bijaksana. Selanjutnya masih berhubungan dengan ide penulis, Fr Serafikus Suarno, Pr. mengutarakan bahwa seseorang disebut bijaksana karena mau mempertimbangkan secara matang keputusan yang akan ia buat, selain itu disebut bijaksana karena ia juga mau mempertimbangkan keputusan yang akan ia ambil dengan memperhatikan orang lain.
Memilih yang terbaik
Kesimpulannya dengan kebijaksanaan kita dapat menimbang, memilih yang terbaik dari semua pilihan hidup yang kita hadapi dengan memperhatikan orang lain, dan bersikap untuk itu. Dengan kedewasaan kita dapat memilih mana yang baik dan yang salah berdasarkan hati nurani kita. Pada kenyataannya masih banyak kalangan profesional yang belum atau bahkan sengaja berbuat tidak bijaksana dan dewasa, padahal profesionalisme seharusnya adalah sesuatu yang mulia.
Sebenarnya kesalahan ini tidak bisa kita timpakan sepenuhnya pada orang tersebut, lingkungan yang membentuk pribadi seseorang tersebut juga (sangat) berpengaruh. Untuk mengembangkan dan membentuk pribadi yang bijaksana dan dewasa, salah satu solusinya adalah dengan menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini dan berkelanjutan. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan pengajaran nilai-nilai moral dan etika dalam dunia pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai sekolah tinggi pengajaran nilai-nilai ini diterapkan. Jika mata pelajaran mengenai moral dan etika masih belum dapat diwujudkan maka dapatlah dimulai dengan menyisipkannya dalam pelajaran sehari-hari. Tenaga-tenaga pengajar seperti guru ataupun dosen sudah seharusnya tidak hanya to teach (mengajar) tetapi juga to educate (mendidik).
Semoga tulisan ini dapat memberikan penyegaran dan atau bahkan pencerahan pada pola pikir dan cara pandang kita (khususnya bagi kalangan prosesional) dalam menghadapi sesuatu sehingga akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk kita semua. Jika kita bisa merubahnya dari sekarang, kenapa tidak?
A DREPANE SOGE
Mahasiswa Magister Hukum Kesehatan Pascasarjana UGM, Yogyakarta
Pengirim : Albertus Drepane Soge
Alamat : Kakap Raya 4 Minomartani Ngaglik Yogyakarta
Telp : 0247 882 520 / 0817 0423 044
